Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Sinopsis K-Drama : Squid Game Episode 04

 

Sinopsis K-Drama : Squid Game Episode 04


Deok Soo mengembalikan pemantik milik Mi Nyeo secara diam-diam sambil mengucapkan terimakasih. 001 juga mengucapkan terimakasih pada Gi Hun. Karna melihat Gi Hun menjilat permen dalgonanya untuk mematahkan sesuai bentuk yang tercetak, dia mengikutinya dan berhasil selamat.


Sang Woo yang sudah ada diruangan terlebih dahulu, kelihatan terkejut karena Gi Hun berhasil selamat. Tapi, dia masih tetap bersikap palsu dengan meminta maaf sudah menyarankan agar mereka berpisah tadi. Gi Hun yang percaya sepenuhnya padanya, tidak mempermasalahkan hal tersebut sama sekali.


Karena semua pemain sudah berkumpul kembali, penyelenggara mengumumkan total pemain yang berhasil bertahan dan total jumlah hadiah yang mereka dapatkan. Dari 187 pemain yang kembali ikut serta, sebanyak 79 pemain tereliminasi. Sehingga total hadiah hingga saat ini yang mereka dapatkan adalah sebanyak 34,8 miliar won.


Episode 04

TETAP DI TIM



Sesi pembagian makan malam. Setiap orang mendapatkan 1 butir telur rebus dan 1 botol minuman soda. Seperti biasa, pembagian makanan dilakukan dengan tertib dan mengantre rapi. Setiap orang sudah dijatahkan demikian dan tidak boleh mendapatkan lebih. Deok Soo jelas nggak puas dengan makanan yang hanya sedikit setelah tadi pagi mereka hanya mendapatkan sepotong roti. Mi Nyeo yang melihat itu, diam-diam membisikan sesuatu padanya.



Dan sedetik kemudian, dia beserta Mi Nyeo dengan 3 orang anak buah lainnya, tiba-tiba saja kembali mengantri dengan memotong antrian. Orang yang dipotong antriannya jelas protes, tapi mereka jauh lebih takut dengan Deok Soo yang kuat dan seorang preman.


Semua makanan sudah habis dibagikan. Ada 5 orang yang tidak mendapatkan makanan. Mereka adalah orang yang berada diantrian belakang. Sayangnya, si lingkaran tidak mau memberikan mereka makanan lagi, soalnya, makanan sudah dijatahkan sesuai jumlah pemain, jadi tidak mungkin ada kekurangan. Para pemain itu tidak terima dan mulai berteriak. Si kotak langsung mengeluarkan pistolnya dan pemain yang protes tadi langsung diam.


Saat itu, pemain yang antriannya di potong tadi, segera melaporkan pada mereka kalau ada orang yang mengambil jatah makanan sebanyak 2 kali, yaitu grupnya Deok Soo. Cih! Mereka makan jatah orang lain tanpa rasa bersalah sedikitpun. Kelewatan! Pemain yang jatahnya dicuri, tidak terima dan mengajukan protes. Bukannya meminta maaf ataupun mengakui kesalahan, dia malah memukuli pemain yang mencoba mengambil jatah minumannya yang diambil oleh Deok Soo.



Tanpa ampun, Deok Soo menendang pemain itu yang hanyalah pria kurus. Setelah beberapa tendangan, pemain itu terdiam di lantai. Sang Woo dan Gi Hun maju untuk memeriksa keadaannya. Pemain itu meninggal. Gi Hun melaporkan kalau seorang pemain sudah mati karena dibunuh oleh Deok Soo. Tidak ada jawaban. Hanya suasana yang mencekam dan teriakan marah dari GI Hun karena tidak adanya respon.


Ditengah suasana tersebut, mesin yang menunjukkan jumlah pemain dan total hadiah, berbunyi. Mesin memberitahu jumlah pemain sekarang adalah 107 pemain dan total hadiah menjadi 34,9 miliar won. Mengerikan! Seorang pemain yang meninggal bukan karena permainan, tetap dianggap sama seperti pemain yang meninggal karena permainan. Mayat pemain juga dimasukkan ke dalam peti dan dibawa pergi. Melihat itu, Deok Soo tersenyum. Dia yang sebelumnya merasa takut, kini malah menjadi semakin berani.



Kalian ingat Byeong Ki yang mendapat bocoran permainan dan dibawa ke suatu tempat saat permainan selesai? Dia ternyata dibawa ke tempat dimana para pemain yang meninggal dikumpulkan. Kenapa? Dia diperintahkan oleh beberapa pengawas untuk melakukan operasi pengambilan organ para pemain.


Sementara itu, Jun Ho mengambil topeng kotak yang ditembak mati oleh si topeng hitam. Dan dia menukar bentuk topengnya tersebut dari segitiga menjadi kotak. Topeng kotak mempunya tanda sebagai orang yang berposisi tinggi diantara para pengawas lainnya karena itu, tidak ada yang berani menegurnya.


Speaker sudah mengumumkan kalau lampu akan dipadamkan 30 menit lagi dan semua diharapkan kembali ke kamar masing-masing. Para pengawas segitiga yang masih bersama Byeong Ki mulai panik dan memintanya bergegas menyelesaikan operasi.


Dikamar para pemain, Sang Woo memberitahu Ali dan Gi Hun kalau mereka tidak boleh tidur malam ini setelah lampu dipadamkan. Dia yakin kalau Deok Soo dkk sedang menyiapkan sesuatu. Jadi, kalau mereka di serang saat malam, mereka harus melawan balik bersama-sama, makanya mereka harus tetap siaga. Gi Hun paling khawatir dengan 001 yang merupakan pemain tertua. 001 juga sudah seperti kehilangan fokus. Bukan hanya pada 001, dia juga khawatir pada Sae Byeok, ditambah lagi, hubungan Sae Byeok dengan Deok Soo tidak baik. Makanya, dia memberitahu Sae Byeok untuk berkumpul di dekat kasurnya.


“Aku tidak percaya pada manusia. Terutama yang berakhir ditempat seperti ini,” ujar Sae Byeok.

“Kau tak pantas mengatakan itu. Kita memercayai orang bukan karena dapat dipercaya, tapi karena tak ada tempat untuk bersandar.”



Ditempat pengurusan mayat para pemain, organ-organ yang sudah berhasil diambilkan oleh Byeong Ki dari para mayat, di masukkan ke dalam kotak pendingin dan seseorang dari para pengawas, akan mengirimkannya ke kota melalui laut. Byeong Ki sama sekali nggak peduli dengan urusan mereka, yang dia inginkan adalah bocoran permainan besok. Si segitiga menunjukkan padanya sebuah telur. Byeong Ki sedikit mengancam agar mereka tidak salah memberikannya informasi, karena jika dia sampai tereliminasi, dia tidak akan bisa membantu mereka lagi mengambil organ para pemain yang meninggal.


“Cemaskan itu setelah kau berhasil melalui malam ini. Akan ada perkelahian. Mereka sengaja beri sedikit makanan untuk membuat orang-orang berkelahi. Mereka menyingkirkan yang lemah sebelum permainan berikutnya dimulai. Itu bagian dari permainan. Kami tak bisa melindungimu di dalam sana. Cepat kembali dan cari cara untuk bertahan hidup. Bergabung dengan tim terkuat. Itulah cara untuk bertahan,” bocorkan si segitiga.


Sebelum kembali ke kamarnya, Byeong Ki menikmati terlebih dahulu telur rebus yang diberikan padanya. Di dalam telur itu ada kertas merah yang berisi petunjuk permainan besok (aku juga nggak tahu gimana caranya kertas merah itu bisa dimasukkan ke dalam telur rebus). Dan setelah itu, dia baru kembali ke kamar. Begitu kembali, dia langsung melihat semua team yang berkelompok. Matanya tertuju pada satu team. Team Deok Soo.


Tanpa basa basi, Byeong Ki memohon untuk diizinkan bergabung dengan team mereka. Mi Nyeo yang sudah diterima menjadi bagian dari team Deok Soo, langsung bertingkah seperti Nyonya Bos dan menanyakan alasan kenapa mereka harus menerima Byeong Ki? Byeong Ki menjawab kalau dia adalah dokter dan pasti akan berguna bagi mereka. Mi Nyeo malah mengejeknya, soalnya profesi dokter tidak berguna disini. Apa dia mau menyuntik mereka kalau mereka sakit pilek?



Deok Soo juga meremehkannya. Dia menyuruhnya untuk bersembunyi dipojokkan saat lampu dipadamkan dan tahanlah nafas. Jika nafasnya sampai terdengar, dia akan menangkapnya. Byeong Ki tidak gentar dan berbisik kalau dia tahu permainan berikutnya. Satu kalimat itu membuat Deok Soo kelihatan sedikit berubah pikiran.


Para pengawas juga sudah diharuskan untuk kembali ke kamar masing-masing.


Para pemain juga sudah bersiap di tempat tidur masing-masing, tapi dengan hati penuh ketakutan. Deok Soo bahkan sudah menyiapkan pecahan botol soda tadi untuk menyerang para pemain. Di kamar itu juga sudah disiapkan kamera suhu, sehingga si topeng hitam bisa mengawasi pergerakan para pemain begitu lampu dimatikan.


Dan benar saja, begitu lampu dimatikan dan keadaan menjadi sangat gelap gulita, Deok Soo dkk mulai bergerak untuk membunuh para pemain. Semakin banyak pemain yang dibunuh, semakin banyak uang hadiah yang mereka kumpulkan dan semakin berkurang musuh mereka untuk permainan selanjutnya. Korban pertama Deok Soo adalah seorang wanita. Suara jeritan wanita itu langsung membuat suasana menjadi sangat mencekam dan tidak terkendali.

Seperti film thriller, si topeng hitam memerintahkan anak buahnya untuk mulai memainkan lampu kamar pemain. Hidup mati. Hidup mati. Sehingga makin mudah melihat posisi pemain-pemain yang bersembunyi. Seperti yang sudah diperkirakan Gi Hun, Deok Soo mengincar Sae Byeok. Dengan kekuatannya dan senjata potongan botol kaca, dia berusaha melukai Sae Byeok, tapi Sae Byeok yang mempunyai pisau kecil, berhasil melumpuhkan kekuatannya sesaat.

Meskipun terluka, kekuatan Deok Soo sangat kuat. Dia memojokkan Sae Byeok dan berhasil membuat pisau Sae Byeok terjatuh. Dengan sekuat tenaga, dia mencekik Sae Byeok. Sae Byeok berusaha sekuat tenaga untuk kabur dan mengambil kembali pisaunya yang terjatuh ke lantai. Seorang pemian lain yang berusaha membunuh Deok Soo dengan memanfaatkan situasi, malah berbalik diserang dan dibunuh Deok Soo. Suasana sangat kacau. Suara erangan, tusukan dan teriakan bergema di seluruh penjuru ruangan.



Ditengah kekacauan itu, 001 menghilang. Gi Hun jadi panik dan khawatir terjadi sesuatu padanya. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Gi Hun dengan Sang Woo serta Ali berkumpul bersama dan bergerak bersama-sama, jadi kalau ada yang menyerang mereka, mereka bisa saling membantu. Korban terus berjatuhan.

001 akhirnya mulai terlihat. Entah bagaimana caranya, dia berhasil memanjat ke tempat tidur paling tinggi dan berteriak agar semunya berhenti membunuh atau mereka semua akan mati! Dia sangat takut!!! Hentikanlah!


Hal itu kelihatan sama si topeng hitam melalui CCTV. Dia pun memerintahkan untuk menghentikan permainan. Lampu dinyalakan dan segerombolan pengawas memasuki ruangan para pemain. Jun Ho termasuk salah satu diantara para pengawas tersebut. Para pengawas juga mulai menggeledah tubuh semua pemain dan mengumpulkan semua senjata tajam.


Sementara para pemain yang tewas, diidentifikasi untuk mengetahui pemain nomor berapa mereka. Disaat itu, Jun Ho mendekati Gi Hun dan berbisik, menanyakan, apakah diantara para pemain ada yang bernama Hwang In Ho? Gi Hun sedikit bingung dan menjawab kalau mereka tidak mengenali nama para pemain.


Permainan mematikan tadi, membunuh banyak para pemain. Setelah semua mayat dievakuasi, Gi Hun mulai menanyakan keadaan 001. Dia khawatir sekali karena 001 menghilang dan malah muncul di tempat yang sangat tinggi. Sae Byeok juga sudah bergabung dengan mereka. Gi Hun berusaha mencairkan suasana yang tegang tadi dengan mengajak mereka untuk saling berkenalan nama.


Gi Hun memulai perkenalan pertama kali. Namanya adalah Seong Gi Hun dari Ssangmun-dong. Ali yang selanjutnya. Namanya adalah Ali Abdul dari negara Pakistan. Sang Woo juga memperkenalkan namanya. Sae Byeok awalnya engan memberitahu, tapi karena Gi Hun memintanya, dia menjawab namanya adalah Kang Sae Byeok. Sementara 001, dia kelihatan seperti mulai pikun dan tidak tahu apa namanya. Melihat kondisinya, Gi Hun tidak memaksanya dan mencoba positif kalau kondisi 001 ini mungkin karena stress akibat ketakutan. Nanti juga pasti akan membaik dan ingat semuanya.


Deok Soo terluka parah saat perkelahian tadi. Dia mendapatkan luka sobek. Dan untungnya, ada Byeong Ki yang seolah dokter, yang bisa memberikan pertolongan pertama dengan menjahit lukanya ala kadarnya dengan alat yang tersedia. Sikap Deok Soo juga sangat berubah pada Byeong Ki yang sudah menjahit lukanya dan bilang tahu permainan selanjutnya.



Jumlah pemain yang berhasil mereka bunuh adalah 27 orang. Sekarang hanya tersisa 80 pemain. Mi Nyeo mencoba bersikap manis pada Deok Soo dengan memanggilnya ‘oppa’ tapi Deok Soo malah mengejeknya yang tampak lebih tua. Mi Nyeo terlihat marah dan bergumam kalau dia menyesal sudah menyelamatkan Deok Soo saat permainan permen dalgona tadi. Deok Soo masih menginginkannya jadi dia mencoba baik dengan menebak umurnya, dari umur 49 tahun menjadi umur 19 tahun.

Astaga! Dasar parah! Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini, mereka malah seperti itu di kamar mandi.


Jun Ho seperti biasa, begitu kembali ke kamar, bersembunyi di balik selimut mulai menulis catatan di ponselnya, mengenai pengamatannya hari ini.  Ada bentuk, pangkat, pemimpin bertopeng, pembantaian dengan senjata api, kericuhan, pembunuhan bersekongkol, kakakku. Saat sedang mengetik itu, tiba-tiba terdengar suara. Ketika didengarkan dengan seksama, bunyinya seperti kode morse. Jun Ho mengetikkannya di ponselnya.


Hari sudah pagi,

Dan sepanjang malam ternyata 001 tidak tidur. Dia terjaga karna takut mereka akan diserang lagi. GI Hun jelas kaget tapi 001 bilang kalau dia baik-baik saja. Dia juga sadar kalau dia tidak bisa membantu banyak, jadi setidaknya dia harus berjaga.


Hari ini tanpa sarapan, semua pemain langsung diperintahkan bersiap dan diarahkan ke lokasi permainan ketiga. Berbeda dengan dua permainan sebelumnya yang diadakan ditempat terbuka, sekarang mereka melakukannya di dalam gedung.  Permainan kali ini adalah permainan beregu dan mereka diminta membentuk tim yang terdiri dari 10 orang. Total akan ada 8 team.

Byeong Ki sudah memberitahu Deok Soo mengenai permainan yang akan mereka mainkan, jadi Deok Soo memerintahkan anak buahnya untuk mengumpulkan pria yang terlihat kuat. Mi Nyeo udah senang saja karena dia kan sudah memiliki team. Dia nggak tahu saja kalau Deok Soo tidak menginginkannya.


Sang Woo dan Gi Hun mendiskusikan kemungkinan permainan yang akan mereka mainkan. Dia menebak kalau mereka mungkin akan bermain Kepala Ekor Naga atau Ular Naga. Jika bermain Kepala Ekor Naga, mereka harus lincah. Jika Ular Naga, kita hanya perlu melakukan Batu-Gunting-Kertas. Sang Woo memberitahu Gi Hun kalau mereka membutuhkan lebih banyak pria karna di team mereka sudah ada seorang pria tua dan wanita. Gi Hun kurang setuju. Kalau permainan nanti mereka malah bermain ggongi atau lompat tali, bukankah pemain wanita jauh lebih baik?

“Meski begitu, pria lebih baik untuk sebagian besar permainan,” tegas Sang Woo. “Kita mempertaruhkan nyawa kita. Mau pilih sisi yang mana? Kita hanya membutuhkan lima orang lagi. Mari berpencar dan bawa satu orang masing-masing. Paham?” perintah Sang Woo. “Sembunyikan tanganmu. Itu membuatmu terlihat lemah,” pesannya pada Ali karena dua jarinya tidak ada.



Semua pemain mulai berpencar utnuk mencari anggota. Sang Woo mencoba mengajak seorang pria, tapi pria itu mau bergabung jika istrinya juga ikut bergabung. Sang Woo langsung menolak karena sudah banyak wanita di team mereka. Gi Hun juga mencoba merekrut seorang pemain pria.

Sae Byeok masih sibuk berkeliling dan melihat ada seorang pemain wanita yang seolah tidak peduli dengan keadaan dan hanya duduk menyendiri dengan santai.



Si topeng hitam melalui CCTV melihat suatu kejadian yang seru. Mi Nyeo memohon pada Deok Soo untuk tidak membuangnya dari team. Deok Soo nggak peduli soalnya tim-nya udah penuh. Mau seperti apapun Mi Nyeo memohon,  percuma. Yang ada, Deok Soo jadi muak dan memukulinya. Dia juga bilang akan merobek mulut Mi Nyeo jika memanggilnya ‘oppa’ lagi.


“Bajingan. Jang Deok-su. Dasar bedebah. Sudah kubilang, aku akan membunuhmu jika kau mengkhianatiku,” maki dan ancam Mi Nyeo.

Deok Su nggak takut sama ancamannya. Soalnya, dia juga nggak yakin kalau Mi Nyeo akan bisa selamat dalam permainan hari ini.


Sae Byeok mengajak pemain wanita bernomor 240, Ji Yeong,  itu untuk bergabung bersama mereka. Dengan bergabungnya mereka, jumlah pemain yang berhasil dikumpulkan ada sebanyak 9 pemain. Sang Woo sedikit kesal karena Sae Byeok bukannya mengajak pemain pria seperti perintahnya, malah mengajak pemain wanita. 240 sangat cuek, kalau Sang Woo nggak mau dia bergabung, dia akan pergi. Gi Hun melarang dan menyuruhnya untuk tetap di tim mereka, lagi pula mereka nggak tahu permainan yang akan mereka mainkan.


Sang Woo sudah sangat pesimis dengan team mereka. Dia menyebut team-nya sendiri sebagai team lemah dan mereka pasti akan mendapatkan orang buangan. Dan orang buangan itu adalah Mi Nyeo. Dia nggak diterima di team manapun, jadi tanpa malu, dia bergabung dengan team Sang Woo dan Gi Hun.


Permainan akan dimulai. Semua diarahkan masuk ke sebuah ruangan khusus. Di ruangan itu, ada sebuah jembatan yang bagian tengahnya terputus. Dan permainan ketiga ini adalah Tarik Tambang. Tim dinyatakan menang jika berhasil menarik tim yang melawannya jatuh ke bawah jembatan. Team Deok Soo yang adalah team terkuat, tentu merasa senang. Sementara Sang Woo sangat cemas karena mereka mempunyai banyak orang wanita di team mereka dan satu orang pria tua. Mereka yang paling lemah



Mereka masih cukup beruntung karna dari hasil ujian mereka tidak melawan team Deok Soo. Team Deok Soo yang adalah team 1 akan melawan team 7. Mereka yang akan bertanding pertama kali. Setiap anggota team dipasangkan sebuah pengikat tangan yang dikaitkan ke sesama anggota team dan tali, jadi nggak ada yang bisa kabur seandainya anggota team yang paling depan terjatuh.



Hasilnya sudah bisa ditebak. Mereka yang semuanya adalah pria dengan badan besar dan kekar, berhasil menarik team 7. Semua team terjatuh dari atas jembatan dan bergelantungan ditali. Dan ternyata, diatas tali ada sebuah pemotong. Begitu team 7 jatuh dari atas jembatan, tanpa memberi kesempatan bagi para pemain untuk memanjat naik tali, pemotong langsung turun ke bawah dan memotong tali hingga putus. Akibatnya, orang yang bergelantungan di tali, terjatuh dari tempat yang tinggi itu ke lantai. Sudah ada petugas dibawah yang bertugas mengevakuasi tubuh para pemain tersebut, meskipun pemain itu masih ada yang hidup.

Setelah menang, team Deok Soo langsung diarahkan kembali ke ruangan tanpa melihat permainan selanjutnya.



Yang bermain selanjutnya adalah team Sang Woo dan Gi Hun melawan team yang semua anggotanya pria. Mi Nyeo dan anggota lain sudah kelihata pesimis bisa menang. Rasanya seperti menunggu kematian. Saat menuju arena permainan jembatan itu, 001 menyuruh mereka jangan berkecil hati. Tarik tambang tidak hanya memerlukan kekuatan tapi juga strategi dan kerja sama yang baik. Kita bisa tetap menang meskipun lemah. Pemain 244 menimpali kalau yang bisa menyelamatkan mereka hanyalah Tuhan. Pemain lain meremehkan perkataan 001. Hanya Gi Hun yang mau mendengarkan strateginya. 001 dengan bangga bilang kalau dia sering bermain tarik tambang saat kecil dan jarang kalah. Dulu, dia pernah harus melawan team yang mempunyai atlet ssireum, tapi tetap bisa menang.


“Dengarkan baik-baik. Aku akan memberi tahu kalian caraku menang dahulu. Pertama, orang yang berada di paling depan adalah yang paling penting. Orang itu paling dekat dengan tim lawan, dan anggota tim lain melihat sosok orang itu dari belakang. Jika dia terlihat lemah dan putus asa, maka berakhirlah permainan. Orang yang berada di paling belakang, harus bertubuh besar dan kuat seperti jangkar kapal. Selanjutnya adalah masalah penempatan anggota tim. Tempatkan pemain di sebelah kanan dan kiri tali secara selang-seling. Posisikan kedua kaki sejajar dan menghadap ke depan. Letakkan tali di antara ketiak. Dengan begitu, kau bisa mengerahkan seluruh tenagamu. Dan terakhir, ini adalah hal yang paling penting. Untuk sepuluh detik pertama setelah permainan dimulai, kau hanya perlu bertahan di tempat. Kau harus berbaring. Dorong perut bagian bawah ke langit, dan dorong kepalamu ke belakang sampai kau bisa melihat pangkal paha orang di belakangmu. Jika kau melakukannya, kita tak akan terseret oleh tim lawan. Tahan selama sepuluh detik. Pihak lawan pasti akan panik dan bingung, "Kenapa tak terseret sama sekali?" Karena mereka sangat yakin bahwa tim mereka jauh lebih kuat. Jika kau bisa bertahan selama itu, akan ada saat di mana tim lawan kehilangan ritme,” jelas 001.





Permainan dimulai. Mereka mengikuti apa yang sudah diarahkan oleh 001 sebelumnya. Yang berada di paling depan adalah Gi Hun dan yang paling belakang adalah Ali. Mereka juga memasang posisi yang sama seperti yang disuruh 001 dan bertahan selama 10 detik. Seperti yang dikatakan 001, team lawan mulai panik karena team lawan tidak bergerak sedikitpun.


Dan saat team Gi Hun mulai bergerak, mereka mulai kehilangan pijakan dan terseret. Tapi, mereka nggak menyerah dan berhasil ke posisi semula dan dan menarik team Gi Hun. Team Gi Hun sudah terdesak kalah. Sang Woo mulai memberi perintah, saat dia memberi aba-aba, maju ke depan sebanyak 3 langkah. Ide yang sangat gila. Mi Nyeo menolak ide itu, tapi mereka nggak punya pilihan lain selain mengikutinya.


“Hitungan ketiga. Satu! Dua! Tiga!!!” teriak Sang Woo.