Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Sinopsis K-Drama : Squid Game Episode 05

 

Sinopsis K-Drama : Squid Game Episode 05




Sesuai dengan arahan Sang Woo, team mereka tiba-tiba saja berlari ke depan setelah hitungan ketiga sebanyak 3 langkah. Hal itu membuat team lawan yang dalam keadaan menarik tegang, tiba-tiba langsung terjatuh karena tali yang tegang tiba-tiba menjadi longgar. Team Gi Hun langsung menarik kembali dengan kuat sebelum team lawan sempat berdiri dan memperbaiki postur tubuh mereka. Lawan yang sudah kehilangan pijakan menjadi goyah dan tidak mampu bertahan dari tarikan lawan. Mereka yang awalnya dikira sebagai team lemah, berhasil membuktikan diri kalau mereka mampu menang melawan team kuat.  


Episode 05

DUNIA YANG ADIL


Gi Hun masih shock karena mereka berhasil menang di pertandingan tadi. Seorang anggota teamnya, 244 juga berdoa, untuk mengucap syukur karena berhasil menang dan bertahan. Melihat itu, Ji Yeong dengan sinis menyuruhnya untuk berterimakasih pada 001 dan Sang Woo yang membuat mereka bisa menang. 244 menjawab kalau mereka bisa hidup sampai saat ini berkat pengorbanan dan darah mereka. Dan mewakili mereka semua yang berdosa, mengucapkan terimakasih dan berdoa kepada Tuhan atas keputusan untuk mengorbankan mereka. Ji Yeong menjawab dengan sarkas kalau hal itu konyol karena 244 yang membunuh mereka.


Ji Yeong mau mencoba akrab dengan Sae Byeok, makanya dia menanyakan namanya. Tapi, Sae Byeok tidak mau memberitahu dan juga melarang Ji Yeong memanggilnya.


Di ruangan para pemain, team Deok Soo benar-benar bangga bisa menang mengalahkan team 7. Kesenangan mereka berubah menjadi rasa terkejut saat melihat team yang berhasil selanjutnya adalah team Gi Hun yang lemah.


Permainan sudah selesai. Pemain tersisa 40 orang dan hadiah uang yang terkumpulkan adalah 41,6 miliar won.


Mi Nyeo sekarang tetap berada di team Gi Hun dan berusaha akrab dengan anggota lainnya. Dia juga mencoba merayu Sang Woo, yang dikiranya adalah pemimpin team. Dia terus saja bicara seperti nggak tahu malu memuji semua ide 001 dan Sang Woo padahal sebelumnya, dia yang paling banyak protes dan menyebut ide mereka itu gila. Padahal dia baru bergabung tapi udah punya ide mau merubah team. Sang Woo bilang padanya kalau disini nggak ada yang namanya kapten dan posisi semua orang adalah setara.


Mi Nyeo sebenarnya sangat dendam pada Deok Soo yang sudah membuangnya. Dia juga nggak terima kalau dia dibuang dan terus saja bilang kalau dia yang keluar sendiri dari team karena menurutnya, mereka tidak selevel dengannya. Sang Woo nggak peduli dengan ucapan omong kosongnya dan menegaskan kalau dia itu dibuang. Team Deok Soo sengaja memilih anggota team bertubuh kuat tepat sebelum permainan dimulai. Seolah-olah mereka tahu permainan apa yang selanjutnya dimainkan.


Suasana kembali tegang saat pengumuman berkumandang kalau waktu tinggal 30 menit lagi sebelum lampu dipadamkan. Mereka masih takut kalau akan ada penyerangan seperti kemarin. Jadi, Sang Woo mengajak mereka menyusun rencana pertahanan. 196 merasa itu sulit karna team mereka yang paling lemah dengan 3 wanita dan 1 pria tua. 244 menyarakan agar mereka menyerah team lemah lain terlebih dahulu. Ji Yeong langsung sinis menyindirnya yang kejam padahal hamba Tuhan. 244 dengan santai menjawab kalau mereka sudah berdosa dan tangan mereka juga sudah berlumuran darah.


Sae Byeok nggak setuju dengan ide mereka yang menyerang duluan. Itu karna saat penyerangan kemarin, pria yang tidur didepannya, meninggal karena lehernya dipatahkan oleh orang yang dia kira setim dengannya. Jadi, apa mereka bisa percaya dengan sesama anggota team? Kalau dia nggak percaya. Suasana menjadi tegang lagi. Gi Hun menyarankan agar mereka membuat barikade sebelum lampu dipadamkan. Jadi tempat tidur mereka, mereka susun dengan rapat agar tidak ada yang bisa masuk ke dalamnya.


Deok Soo yang melihat itu tertawa sinis. Dia mendekati Gi Hun dan mengejek, apa dia kira dengan barikade seperti ini bisa menjaminnya aman? Gi Hun membalas, apa Deok Soo mengira dirinya aman? Apa dia bisa mempercayai pada bedebah yang setim dengannya? Pertanyaan Gi Hun itu jadi membuat Deok Soo merasa ragu dengan rekan setim-nya. Ditambah lagi, Gi Hun bilang kalau dia ada anggota team Deok Soo, maka saat lampu dimatikan, dia pasti akan membunuh Deok Soo yang paling kuat di sini.


Ah, ucapan Gi Hun sukses membuat Deok Soo cemas. Mana Byeong Ki juga menghilang. Menurut rekam teamnya, Byeong Ki lagi minta izin ke toilet.


Padahal sebenarnya, Byeong Ki dibawa oleh pengawas kemarin ke tempat pengumpulan mayat para pemain. Dia akan disuruh mengoperasi donor seperti kemarin lagi. Tindakannya itu tidak sesuai dengan aturan. Beberapa pengawas permainan memang sudah bekerja sama agar pria bertopeng hitam tidak tahu apa yang mereka lakukan. Soalnya, seseorang yang bertugas di ruangan CCTV, dengan sengaja menghapus rekaman saat Byeong Ki melewati jalan rahasia.


Sementara itu, team Gi Hun sudah selesai menyusun barikade dan mereka juga akan bergantian berjaga setiap berapa jam sekali. Dimulai dari Ali dan Sang Woo, kemudian nantinya akan dilanjutkan Gi Hun dan 001. Sambil berjaga, Ali bercerita mengenai ibu, ayah dan adik-adiknya yang tinggal di Paskitan, dan istri dengan anaknya di Korea. Anaknya berusia 1 tahun. Sang Woo sedikit terkejut saat tahu kalau Ali punya anak. Gantian Ali yang bertanya, kenapa Sang Woo mengikuti permainan ini? Sang Woo menjawab kalau dia butuh uang.


Ah, ternyata bunyi kode morse kemarin yang didengar oleh Jun Ho adalah mengenai pengambilan donor para pemain yang tereliminasi. Jadi, dia itu sepertinya mengambil tempat orang yang berperan sebagai penyelam untuk mengantarkan donor yang diambil secara ilegal ke daratan untuk dijual. Agar bisa bergabung di sana, Jun Ho memakai topeng lingkaran.


Sekarang sudah saatnya Gi Hun dan 001 yang berjaga. Deok Soo juga tidak bisa tidur dan berjaga sepanjang malam. Dia takut kalu dia tidur, anggotanya akan menyerang dan membunuhnya.


Byeong Ki mulai berseteru dengan para pengawas. Ini mengenai hasil kerjanya. Dia itu hanya dokter gadungan yang membunuh pasien karena malpraktik, tapi malah terlalu banyak berlagak disini. Kalau dia memang begitu hebat, kenapa dia malah merusak bola mata yang dicabutnya kemarin malam? Gara-gara itu, dia jadi diumpat pembeli.

Dengan marah, Byeong Ki membalas kalau itu salah mereka yang meletakkan orang yang belum mati di meja operasi. Makanya operasi jadi kacau karena orang itu bangkit dan melawan! Pertengkaran sudah mau terjadi kalau seorang pengawas lain tidak menyuruh mereka berhenti dan segera menyelesaikan pekerjaan, soalnya kapal yang akan menjemput organ sudah akan tiba.


Aku bingung, soalnya Gi Hun seperti bermimpi buruk atau berhalusinasi ketika sedang berjaga. Dia seperti melihat ada banyak asap dan orang yang memegang tongkat besi memukuli seorang pria hingga berdarah-darah. Dan pria itu mendekat sambil memanggilnya. Lamunannya baru berhenti saat 001 memanggilnya.

“Ada aksi mogok di perusahaan tempatku bekerja dulu. Kami membuat barikade seperti ini,” cerita Gi Hun.

“Kau bekerja di perusahaan apa?”

“Perusahaan mobil.”

“Kenapa lakukan aksi mogok?”


“Kami dipecat karena perusahaan mengalami masa sulit. Aku bekerja di sana lebih dari sepuluh tahun. Padahal anakku akan segera lahir dan ada banyak yang harus kubayar. Mereka tiba-tiba mengusir kami, jadi, aku tak punya alternatif. Perusahaan hancur karena mereka, tapi kami yang harus tanggung jawab. Itu membuatku marah. Sama seperti sekarang, aku dan rekan-rekan kerjaku bergantian untuk menjaga pabrik setiap malam. Kami gemetar ketakutan karena tak tahu kapan polisi akan menerobos.”

“Benar. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, ada aksi mogok cukup besar di perusahaan mobil. Kalau tak salah, berita mengenai masalah itu dibesar-besarkan. Ada yang meninggal di tempat itu, 'kan?”

“Ya.”

“Astaga. Maafkan aku. Aku seharusnya… tak membahas itu,” sesal 001.


Percakapan mereka terhenti karna 001 kelihatan kesakitan. Saat Gi Hun memeriksanya, ternyata dia mengalami demam tinggi.


Byeong Ki masih ada di tempat operasi. Para pengawas juga sibuk membicarakan orang yang bangkit saat sedang di operasi kemarin. Orang itu adalah pemain yang tereliminasi di permainan Lampu Merah, Lampu Hijau. Dan yang membuat mereka sangat ingat dengan pemain itu adalah pemain itu hanya mempunyai satu ginjal. Saat mendengar itu, Jun Ho tampak terkejut.


Gi Hun menyuruh 001 untuk berbaring. Dengan botol air minum yang dimiliki oleh Sae Byeok, dia mengompres kepala 001.


Jun Ho tidak bisa menahan diri dan menanyakan nasib orang yang mereka bicarakan. Si lingkaran lain menjawab kalau dia memukul kepala orang tiu sampai mati dengan benda besi karena terburu-buru. Tapi, kenapa dia menanyakannya padahal mereka ada di sana bersama-sama? Gegara pertanyaan itu, Jun Ho jadi dicurigai. Untungnya, Byeong Ki berteriak menyuruh mereka berhenti berdebat dan berbincang di depannya yang sedang melakukan operasi, atau dia akan menghancurkan semua organ yang ada!


Karena 001 tidak bisa berjaga, Sae Byeok yang menemani Gi Hun berjaga. Lagipula dia juga sudah terlanjur terbangun.



Operasi pengambilan organ akhirnya selesai. Jun Ho dan seorang lagi yang bertugas mengantarkan organ yang sudah diambil ke kapal yang sudah menunggu. Karena pekerjaannya sudah selesai, Byeong Ki mau tahu bocoran permainan besok. Sayang sekali, kali ini, mereka tidak tahu. Belum ada kabar mengenai permainan berikutnya. Byeong Ki mana terima dan berteriak meminta diberitahu permainannya sekarang juga dan tidak mau menunggu sedikitpun!


Sementara itu, Jun Ho baru tahu kalau mereka bisa keluar dari gedung itu menggunakan pintu rahasia yang ada di balik pintu kulkas di dapur. Dibalik pintu itu ada sebuah terowongan.  


Ah, alasan Byeong Ki mau tahu permainan itu malam ini adalah karena dia sudah berjanji pada Deok Soo. Jika dia tidak memberitahunya hari ini, dia bisa mati ditangan mereka! Sudah seperti ini, dia menyandera si segitiga dan meminta segitiga lain segera mencari tahu permainan besok, bagaimanapun caranya! Perkelahian akhirnya tidak terelakkan.


Saat menuju jalan keluar, Jun Ho menemukan ada beberapa benda aneh diterowongan. Rekan yang bersamanya, memperingatinya untuk tidak menyentuh benda-benda itu karna itu adalah bom. Semua bom itu akan diledakkan begitu semua permainan selesai untuk mengubur tempat ini. Dan yang mereka lewati ini adalah lorong yang dibuat untuk para VIP melarikan diri dalam keadaan darurat.


Byeong Ki yang sudah menggila, melarikan diri dari ruang operasi. Dia harus kabur sebelum tertangkap para pengawas itu dan tertembak mati. Tapi, tempat itu sangat luas dan ada begitu banyak pintu. Setelah memasuki pintu sana sini, dia berakhir di arena permainan kedua kemarin : permainan dalgona.



Sementara itu, rekan Jun Ho mulai menyadari sikap anehnya yang begitu banyak bertanya dan suaranya juga sedikit berubah. Jadi, dia mengarahkan pisau pada Jun Ho dan memerintahkannya membuka topengnya. Itu bukan wajah rekan yang diketahuinya. Sayang sekali. Dia memang punya pisau, tapi Jun Ho mempunyai pistol. Situasi berbalik. Jun Ho menyuruh orang itu membuka topengnya juga.


Byeong Ki sudah terpojok. Pengawas yang mengejarnya dengan senapan, memintanya untuk tenang. Meskipun Byeong Ki sudah membunuh rekannya tadi, tidak masalah. Dia akan memasukkan tubuh rekannya itu ke peti dan mengkremasinya. Tapi, jika Byeong Ki sampai terbunuh, bisa terjadi masalah besar. Seorang prajurit yang hilang tidak masalah, tapi tidak bisa kalau ada pemain yang tiba-tiba hilang.


Jun Ho kelihatan sangat marah. Dia berujar kalau orang yang mereka bicarakan tadi, yang bangkit saat tiba-tiba di operasi dan hanya mempunyai 1 ginjal, itu adalah kakaknya! Kenapa dia bisa tahu? karena kakaknya mendonorkan ginjalnya padanya!! Si lingkaran berteriak kaalu Jun Ho salah karena yang mereka bicarakan adalah perempuan, bukan laki-laki.


Karena Byeong Ki tidak bisa tenang juga, si segitiga akhirnya membuka topengnya dan menunjukkan wajahnya pada Byeong Ki agar Byeong Ki bisa mempercayainya. Byeong Ki akhirnya tenang. Dia melepaskan besi yang dari tadi di pegangnya.

Tipuan!! Itu hanya tipuan segitiga untuk membuat Byeong Ki lengah dan bisa dibunuh dengan mudah!

Dor! Sebelum dia sempat melakukannya, dia sudah ditembak terlebih dahulu. Oleh siapa? Oleh si topeng hitam yang mendadak muncul bersama pengawas lainnya.


Jun Ho nggak bisa mempercayai ucapan si lingkaran. Lingkaran akhirnya memberitahu kalau Jun Ho bisa memeriksanya di daftar para pemain. Mereka ada menyimpan informasi data pribadi semua pemain termasuk catatan medisnya. Semua itu ada di ruangan pemimpin, yang berada di atas tangga lorong. Orang yang memakai topeng berbeda itu. Setelah mendapatkan informasi yang diperlukannya, Jun Ho menembak mati si lingkaran.


Si topeng hitam sangat marah, itu terdengar dari suaranya.

“Mau kalian menjual organ mayat atau bahkan memakannya, aku sama sekali tak peduli. Namun, kalian telah merusak aspek terpenting di tempat ini. Kesetaraan. Semua orang setara dalam permainan ini. Semua pemain bersaing dengan adil dalam kondisi yang sama. Orang-orang itu menderita ketidaksetaraan dan diskriminasi di luar sana, dan kita memberikan mereka kesempatan terakhir untuk bertarung dengan adil. Dan kalian melanggar prinsip itu.”


Tanpa ampun, Byeong Ki juga ditembak mati di sana.


Sementara itu, Jun Ho berhasil memasuki ruang pemimpin melalui lorong bawah tanah.


Disisi lain, si topeng hitam bersama anak buahnya, menemukan mayat orang yang dibunuh Jun Ho barusan.






Setelah memeriksa sekeliling, Jun Ho menemukan ruangan yang penuh dengan dokumen data para pemain, seperti yang dikatakan oleh si lingkaran tadi. Sekarang, dia berpacu dengan waktu. Kenapa? karna suara sirine berkumandang yang artinya, akan diadakan inspeksi kepada semua pengawas. Hasilnya, seorang pengawas yang tinggal di kamar 029 menghilang. Para pemain juga dibangunkan paksa dan di suruh berbaris. Dan benar, diantara para pemain ada nama Hwang In Ho, nomor 132, pemain Squid tahun 2015.


001 yang dalam keadaan sakit, saat dibangunkan, mungkin karena faktor usia, mengompol.