Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Sinopsis C-Drama : Cute Programmer Episode 11


Sinopsis C-Drama : Cute Programmer Episode 11


Kondisi Lei terlihat kurang baik. Dia kelihatan sulit bernapas, cemas dan gelisah. Bahkan hanya mendengar Lu Li menyapa saja, dia sudah kelihatan terkejut seperti dikagetkan. Nggak membaca situasi, Renxun malah menyapa Lu Li dengan suara keras dan memuja mujinya. Tujuannya? Hendak meminta nomor Xiaoqi. Xiaoqi nggak langsung memberikan. Dia akan bertanya terlebih dahulu sama Xiaoqi, apa dia mau memberikan nomornya atau tidak. Setelah menanyakan dan Xiaoqi setuju, Lu Li baru memberikan nomor.



Pembicaraan mereka terhenti karena Zhang menyuruh mereka untuk segera bersiap menyambut kedatangan investor. Bukan hanya mereka, Yi Cheng dan Yi Ming juga sudah sangat mempersiapkan diri dan memakai baju kemeja kotak-kotak sama dengan mereka semua. Rasa antusias Yi Cheng dan Yi Ming hanya bertahan sekejap. Saat melihat investor yang datang, wajah keduanya berubah menjadi tegang dan muram. Zhang dkk yang tidak menyadari situasi, berbisik-bisik memuji investor kali ini sangat cantik. Investor tersebut adalah Li Man.




Jelas-jelas Yi Cheng sudah menunjukkan sikap yang amat sangat dingin, tapi Li Man masih bersikap seolah tidak peka. Dengan sikap formal, dia memperkenalkan diri sebagai perwakilan investor dari perusahaan game EG, Li Man. Dia juga menyapa Yi Ming dengan sebutan, kakak senior. Yi Ming membalas sapaannya dengan sopan tapi menekankan jarak dengan menyuruhnya agar menyebutnya dengan sopan, tn. Yi Ming. Sikap keduanya yang begitu dingin pada investor mereka kali ini, sudah terasa aneh sama Zhang dkk.



Dan benar saja, tanpa kesempatan menjelaskan game buatan mereka, Yi Cheng menyatakan kalau mereka menolak bekerja sama. Keputusan yang membuat semuanya terkejut. Masih dengan sikap tenang, Li Man mengajak Yi Cheng untuk bicara berdua. Yi Cheng setuju. Mari mereka bicara, disini. Yi Ming juga mengajak sekretaris yang menemani Li Man untuk ikut ke ruang tamu bersamanya. Sementara Zhang dkk berkumpul di sudut, menunggu dengan cemas hasil pembicaraan Yi Cheng dan Li Man.



Li Man benar-benar tidak tahu malu. Setelah membawa kabur uang perusahaan Yi Cheng, 3 tahun yang lalu, dia masih berani mengungkit hubungan mereka di masa lalu. Cara bicaranya benar-benar menjengkelkan. Dia merasa kalau Yi Cheng menolak bekerja sama dengannya karna masih belum bisa melupakannya. Yi Cheng dengan tegas menjawab kalau dia hanya tidak ingin bekerja sama dengan seorang pengkhianat. Li Man tetap saja tidak sadar diri dan tetap saja bertahan pada keyakinannya kalau Yi Cheng masih belum merelakannya. Makanya, Yi Cheng tidak pernah menerima programmer wanita di perusahaannya. Dan dia juga, demi Yi Cheng makanya kembali dan ingin memulai semua dari awal. 



Yi Cheng kelihatan lelah menghadapi kepercayaan dirinya yang nggak masuk akal dan tidak tahu malu tersebut. Apa Li Man nggak melihat kalau di perusahaannya ada seorang programmer wanita? Tanpa menunggu jawaban Li Man, Yi Cheng beranjak pergi sambil memanggil nama Lu Li. Dan tanpa instruksi apapun, dia mendorong Lu Li hingga ke dinding dan menciumnya. Zhang dkk termasuk Li Man, otomatis terkejut dengan yang Yi Cheng lakukan tiba-tiba. Dan layaknya netizen, mereka mengeluarkan ponsel dan mulai merekam ciumana Lu Li dengan Yi Cheng. Lu Li yang memang menyukai Yi Cheng, tidak menolak ciuman Yi Cheng dan membalasnya.



Untuk memperkuat status hubungan mereka, Yi Cheng menggenggam tangan Lu Li dan menunjukkannya pada Li Man. Lu Li yang tidak tahu apapun mengenai hubungan Yi Cheng dan Li Man, hanya merasa bahagia dengan tindakan Yi Cheng.



Tentu saja, setelah kejadian itu, dia diinterogasi sama Zhang dkk. Sejak kapan mereka pacaran? Gimana cara dia bisa mendapatkan Yi Cheng? Kenapa mereka bisa nggak tahu? Lu Li jelas malu mendapat begitu banyak rentetan pertanyaan. Dia juga nggak bisa bilang kalau hubungan mereka sudah lebih dari pada pacaran. Yang bisa dikatakannya hanyalah kalau mereka  dijodohkan oleh orang tua.


Zhang dkk semakin menggodanya. Tidak sangka hubungan mereka sudah begitu jauh karena sudah bertemu masing-masing keluarga. Hebat juga mereka bisa merahasiakannya hingga sekarang. Kapan mereka akan menikah? Lu Li dengan malu-malu menjawab kalau hubungan mereka tidak buru-buru. Renxun menimpali kalau sebaiknya mereka bergegas, soalnya Yi Cheng kelihatan punya hubungan spesial dengan investor tadi.



Karena rasa kepo, mereka mulai mencari tahu informasi pribadi Li Man. Melalui internet, mereka jadi tahu kalau Li Man adalah lulusan dari Universitas Xinhai jurusan Ilmu Komputer. Usia 27 tahun. Tiga tahun lalu belajar keluar negeri dan kini menjabat sebagai manager senior dalam Departemen Investasi Proyek Perusahaan Game EG. Meskipun mereka hanya mendapatkan informasi tersebut, Zhang sudah bisa membuat kesimpulan. Pantesan saja dia memanggil Yi Ming, kak senior. Renxun menambahkan, kalau kemungkinan besar Li Man adalah mantan pacar Yi Cheng soal itu.

Ah, mumpung membahas itu, mereka jadi penasaran, apakah Yi Cheng pernah membahas mantan pacarnya pada Lu Li? Lu Li menggelengkan kepala. Suasana langsung canggung. Zhang dkk baru tersadar kalau mereka sudah salah bicara dari tadi dan langsung mengalihkan topik kemudian kabur.




Foto ciuman Yi Cheng dan Lu Li yang difoto oleh Zhang dkk tadi, dengan cepat tersebar ke semua pegawai di Enchant Tech. Dalam sekejap, ciuman tersebut menjadi topik panas dan bahan gosip. Tentu saja, Zi Tong yang bekerja di Enchant Tech, tidak ketinggalan info. Dia sangat bersemangat saat melihat foto itu dan meminta pegawai yang memiliki foto untuk mengirimkannya padanya. Dia akan mengirimkan foto itu pada Ibunya yang pasti akan kegirangan.


Sayangnya, kesenangan Zi Tong lenyap dalam sekejap saat menyadari kalau di foto itu ada sosok Li Man. Umur panjang! Dia berjumpa dengan Li Man yang baru saja mau pergi. Li Man memang benar-benar definisi dari kata ‘orang tebal muka.’ Dia nggak ada malunya sama sekali dan bicara dengan sangat lembut, sopan dan basa-basi tanpa menyadari kejahatannya di masa lalu pada Yi Cheng, kakak Zi Tong. Zi Tong tidak suka dengan basa-basinya, toh hubungan mereka tidak seperti dulu lagi. Dia menghampiri hanya untuk memperingati Li Man untuk tidak mengganggu kakaknya lagi!


Li Man tidak mau dan malah bilang kalau dia ingin berteman dengan Zi Tong lagi. Zi Tong menolak. Sejak dia mengkhianati kakaknya dan menghilang tanpa kabar, mereka sudah putus hubungan. Li Man tetap saja tidak mau menyerah bermulut manis dan terus bilang kalau dia nggak pernah ada niat untuk menyakiti siapapun. Baginya, Zi Tong adalah sahabat terbaik, Yi Ming adalah kakak senior yang paling dipercayai dan Yi Cheng adalah orang yang paling dicintai.

“Jelas-jelas yang kau cintai adalah dirimu sendiri! Bilang. Kali ini apa lagi yang ingin kau dapatkan dari kakakku?”

“Kali ini aku kembali untuk menebus kesalahanku padanya, tetapi aku tidak menyangka kalau dia sudah punya pacar.”


“Makanya, kusarankan kau segeralah menyerah. Hubungan kakakku dan Lu Li sangat baik.”


Dasar licik! Li Man malah memancing dengan berujar kalau belum lama ini Yi Cheng masih menjalani kencan buta, jadi hubungan mereka pasti belum lama. Zi Tong terpancing! Dia menjawab kalau meskipun baru pacaran belasan hari, Yi Cheng tidak akan goyah karena Li Man! Li Man jelas senang karena hubungan Yi Cheng dengan Lu Li baru belasan hari.



Zi Tong yang tersadar kalau dia sudah salah ngomong, segera mengakhiri pembicaraan dengan Li Man dan bergegas menemui Yi Ming. Dia mengaku pada Yi Ming kalau dia hendak memperingati Li Man, tapi malah keceplosan memberitahu kakaknya dan Lu Li belum lama berpacaran. Yi Ming yang dewasa, menenangkannya. Meskipun Zi Tong tidak mengatakan hal itu, Li Man pasti tetap akan tahu dari sumber lain. Zi Tong jadi tenang dan mulai mengajak Yi Ming diskusi mengenai tujuan Li Man menemui kakaknya lagi. Padahal dulu, Li Man sangat pemalu. Tidak disangka, dalam beberapa tahun, bukan hanya kerutannya yang bertambah tapi mukanya juga jadi tebal muka. Yi Ming menasehati dengan bijak agar Zi Tong tidak ikut campur dalam masalah Yi Cheng dan biarkan Yi Cheng menyelesaikannya sendiri.



Topik pembicaraan sudah habis, tapi Zi Tong nggak pergi dan malah menatap wajah Yi Ming. Tanpa malu, dia memuji wajah Yi Ming yang tampan. Yi Ming menegurnya dan mengajaknya membicarakan masalah pekerjaan. Apa Zi Tong tahu departemennya sedang mengerjakan apa? Dan jawabannya, tidak. Yi Ming menasehatinya lagi agar menghargai posisi yang sudah didapatkan. Dia sudah mendapat privilege bisa masuk perusahaan dan menjabat di posisinya sekarang, sementara banyak orang diluar sana yang berusaha keras mendapatkannya. Bukannya mendengarkan nasehat Yi Ming, Zi Tong malah bilang tujuannya datang bekerja ke perusahaan adalah untuk mengejar Yi Ming. Dia mencurahkan semua perasaannya untuk mengejar Yi Ming. Yi Ming beneran kehabisan kata-kata untuk menegurnya.


Dalam perjalanan pulang, Li Man kelihatan galau soalnya Yi Cheng sudah punya pacar. Sekretarisnya yang tahu hubungan masa lalu Li Man dengan Yi Cheng, memanasi Li Man dengan bilang kalau Lu Li terlihat biasa-biasa saja dan bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Li Man. Li Man beneran memuakkan. Dia malah bilang kalau Lu Li sangat mirip dengan dirinya dulu! Ah, sekretarisnya malah memnbuat kesimpulan sendiri mengenai Yi Cheng hanya menarik orang yang mirip dengan Li Man untuk membuatnya kesal.



Faktanya, memang ya. Yi Cheng mencium Lu Li hanya untuk membuat Li Man sadar kalau dia tidak punya perasaan apapun padanya. Dan sekarang, dia merasa dilema, takut kalau Lu li marah karna dia tiba-tiba menciumnya. Lagi pusing memikirkan hal itu, dia malah mendapat pesan dari Yi Ming yang menyampaikan kalau Li Man mengajak mereka makan bersama. Li Man juga bilang untuk membawa pacar Yi Cheng.

Yi Cheng menolak untuk ikut.Tetapi Yi Ming malah bilang kalau Li Man pasti ingin melihat apakah Yi Cheng dan Lu Li sungguh pacaran. Yi Cheng jadi terpancing dan mau menerima undangan makan tersebut.



Sikap Zhang dkk pada Lu Li berubah 180 derajat. Mereka memperlakukannya dengan baik karena menganggap Lu Li akan menjadi Nyonya boss kelak. Mereka melarang Lu Li untuk ikut berbersih dan duduk saja. Pegawai dari departemen lain juga berusaha menyenangkan hatinya dengan bilang ingin mengoderkan komputer baru. Lu Li jadi nggak enak dan menolak semua kebaikan mereka karena dia tidak memerlukannya. Dia juga menegaskan kalau Yi Cheng bukan orang yang suka mencampurkan hubungan pribadi dan pekerjaan, jadi jangan sampai mereka salah bicara di depan Yi Cheng.



Pas sekali, yang dibicarakan mendadak muncul dan di depan orang banyak, mengajak Lu Li untuk makan bersama malam ini. Semua pegawai semakin menggodanya yang diajak makan secara terang-terangan. Zhang dkk juga ikut-ikutan dan bersikap semakin baik padanya.



Renxun sudah mulai pedekate dengan Xiaoqi. Dan karena Renxun juga, Xiaoqi jadi tahu kalau satu perusahaan sudah mengetahui hubungan Yi Cheng dengan Lu Li. Tentu saja, satu perusahaan salah paham, mengira kalau mereka pacaran padahal faktanya mereka sudah menikah.


Setelah bergosip, saatnya menuju restoran untuk makan bersama. Sialnya bagi Renxun, Gu Mo lewat dan dia menyapanya. Saat tahu Gu Mo adalah kakak angkat Xiaoqi, untuk kesopanan, Renxun mengajaknya ikut makan bersama. Xiaoqi sebenarnya nggak mau. Renxun juga hanya basa-basi. Siapa sangka kalau Gu Mo malah menerima tawaran formalitas tersebut.


Selama makan bersama, Renxun bisa melihat betapa perhatiannya Gu Mo dengan Xiaoqi. Gu Mo juga berusaha menghancurkan pedekate mereka dengan terus saja ikut campur dalam pembicaraan. Renxun jelas nggak nyaman. Apalagi saat keduanya mulai berbebat dan dia nggak bisa ikut campur sama sekali.



Sementara itu, di pertemuan makan malam antara Yi Cheng, Lu Li, Yi Ming dengan Li Man, terasa sangat canggung. Sikap Li Man benar-benar munafik. Dia jelas tahu Lu Li adalah pacar Yi Cheng, tapi dia terus saja mencoba membahas masa lalu, dimana Lu Li tidak tahu apapun. Saat Yi Cheng kelihatan sakit leher, dia juga mau membahasnya. Untungnya, Lu Li lebih gercep dengan mengeluarkan koyok dan memakaikannya dengan santai di leher Yi Cheng.


Nggak mau nyerah, Li Man malah berujar kondisi leher belakang Yi Cheng dari dulu kurang baik. Dia juga sudah membawakan alat pijit leher belakang yang sangat bagus dari luar negeri dan akan memberikannya ke Yi Cheng. Yi Cheng menolak, soalnya baginya sudah cukup dengan pijitan dari Lu Li. Masih belum puas, Li Man malah mengambilkan udang untuk Yi Cheng sambil berkomentar kalau dia ingat Yi Cheng suka seafood jadi sengaja memesan makanan itu. Yi Cheng menerima udang yang diberikan. Mengupas kulitnya dan memberikannya pada Lu Li untuk dimakan. Senyum Li Man langsung lenyap.


“Lu Li, bukankah kau alergi seafood?” tanya Yi Ming, khawatir.


Yi Cheng kaget. Dia baru tahu hal itu. Li Man juga kelihatan antusias, menyadari Yi Cheng nggak tahu apapun mengenai Lu Li. Lu Li tetap tenang dan tersenyum, menjawab kalau itu dulu dan sekarang dia sudah sembuh. Tanpa berkata apapun lagi, dia memakan udang yang diberikan Yi Cheng.

Li Man kelihatan senang menyadari ada celah antara Yi Cheng dengan Lu Li. Dia kembali membahas kenangan dimasa lalu. Yi Cheng sudah sangat muak mendengarnya dan menegaskan kalau itu masa lalu. Cepatlah makan!


Li Man terdiam mendengar suara tegas Yi Cheng. Dia mengakhiri omongannya dan pamit ke toilet. Tidak lama setelah dia keluar, Yi Cheng juga ikutan pamit ke toilet. Li Man sudah menunggunya. Soalnya dia yakin Yi Cheng akan mengejarnya. Yi Cheng mengejar bukan karena merindukan tapi untuk memperingatinya agar berhenti mengungkit masa lalu di depan Lu Li. Dia menyadari kalau Li Man berusaha membuat Lu Li menjauh darinya dan berpisah darinya.

“Sekalipun kau tidak memaafkanku, kau juga tidak perlu bersandiwara untuk membohongiku. Aku tahu kalian belum lama kenal. Kau sama sekali tidak memahaminya.”


“Apakah ada hubungannya antara mengenal seseorang dan waktu? Aku mengenalmu begitu lama, apakah aku sungguh memahamimu?”

“Kalau begitu, apa kau sungguh menyukainya? Kalau kau sungguh menyukai Lu Li, mana mungkin kau tidak tahu bahwa dia alergi seafood?”

“Aku masih punya banyak waktu untuk memahaminya pelan-pelan.”


Li Man tidak juga berhenti! Sudah sangat jelas Yi Cheng tidak mau terlibat dengannya, tapi Li Man terus saja mau membuat Yi Cheng membenci Lu Li. Dia menyebut Lu Li sebagai gadis kecil yang tidak akan bisa membantu Yi Cheng dalam karier. Menurutnya, Lu Li nggak pantas untuk Yi Cheng.


“Jadi, siapa yang pantas untukku? Apakah kau yang mengkhianati perusahaan, mengkhianati pacar, dan pergi begitu saja dengan membawa semua uangnya? Hari ini aku datang karena ingin memberitahumu. Kita sudah menjadi masa lalu. Masa depanku sama sekali tidak ada hubungannya denganmu,” tegas Yi Cheng.



Di saat itu, Lu Li mulai merasakan reaksi alergi dan mohon izin sama Yi Ming untuk ke toilet. Dia pergi di saat yang tidak tepat. Karna saat itu, Li Man memeluk Yi Cheng secara paksa. Dia yang tidak mendengar pembicaraan mereka sebelumnya, jelas salah paham. Yi Ming yang mengikuti karena khawatir, juga kaget. Lu Li yang shock segera pergi dan Yi Ming mengejarnya. Mereka pergi tanpa melihat Yi Cheng yang menegur sikap Li Man dan secara paksa melepaskan pelukannya.



Yi Ming mengejar Lu Li yang berdiam diri. Dia tidak akan membahas mengenai Yi Cheng, tapi mengenai Lu Li yang memaksakan diri memakan udang padahal jelas-jelas dia alergi. Lu Li dengan ragu bertanya mengenai hubungan Yi Cheng dengan Lu Li. Yi Ming tidak bisa menjawab pertanyaan itu dan menyuruh Lu Li untuk bertanya langsung pada Yi Cheng.

“Kau yang paling memahami mereka. Bertanya padamu lebih objektif.”


“Yang bisa kuberitahukan dengan pasti padamu hanyalah mereka pernah berpacaran.”

“Kalau begitu, nona Li kembali untuk rujuk dengan Jiang Yi Cheng?”

“Kan dan Jiang Yi Cheng sekarang bahkan sudah menikah. Mereka tidak akan ada hubungan apa-apa.”


Mata Lu Li mulai berkaca-kaca. Kelihatan jelas kalau dia kelihatan minder pada diri sendiri. Dia akhirnya mengaku pada Yi Ming kalau dia dan Yi Cheng hanya menikah secara kontrak. Yi Ming speechless. Dia mungkin bisa memahami Yi Cheng yang ingin menghindari kencan buta terus menerus makanya menikah, tapi kenapa Lu Li juga mau menyetujuinya? Lu Li jujur kalau dia sudah lama mengenal Yi Cheng sejak Yi Cheng membuat game “Dream Maker.” Dan tahun ini, adalah tahun kelima dia menyukai Yi Cheng.


Yi Ming mulai memahami semuanya. Alasan Lu Li sampai ingin masuk ke perusahaan mereka adalah demi Yi Cheng. Lu Li sepertinya sudah kehilangan kepercayaan dirinya. Menganggap Yi Cheng adalah barang di dalam toko yang tidak akan bisa dimiliki. Dia mengira dirinya sudah berhasi masuk ke dalam toko, padahal faktanya, dia hanya terus berdiri di luar toko. Dia sudah berusaha mendapatkan waktu 1 tahun dari Yi Cheng dan mengira bisa membuat Yi Cheng menyukainya dalam periode waktu ini. Sayangnya, sering kali muncul hal yang tidak di duga.

“Kau harus percaya pada Yi Cheng. Sekalipun saat ini dia belum bisa memberikanmu cinta yang kau inginkan, kau juga harus memercayai moralitasnya,” yakinkan Yi Ming.



Yi Cheng yang baru tiba, setelah kembali ke ruangan dan melihat tidak ada orang di sana, menegur Yi Ming karena bersama Lu Li berduaan. Di belakang Yi Cheng ada Li Man. Yi Ming yang duper baik, bijak dan dewasa, menjawab kalau dia sedang menghibur Lu Li sebagai teman. Lu Li sedang bersedih karena diajak suami menghadiri undangan dari mantan pacar.

“Suami apanya? Kakak senior, apa yang kau bicarakan?” tanya Li Man, bingung. “Bukankah Lu Li… pacar Yi Cheng?”


“Aku tidak pernah mengatakan kalau dia pacarku,” ujar Yi Cheng dan merangkul Lu Li, “Biar kuperkenalkan lagi. Ini istriku, Lu Li.”

Ini hal yang sedikit membahagiakan Lu Li. Setidaknya, Yi Cheng membuat jelas batas antara dirinya dan Li Man. Setelah mengumumkan hal itu, Yi Cheng pamit pulang duluan dengan Lu Li pada Yi Ming.



Li Man sangat terpukul dengan pernyataan Yi Cheng. Seolah masih belum cukup, Yi Ming bertanya padanya, apakah dia menyesali hal yang dilakukannya dulu? Li Man menjawab kalau dia selalu menyesalinya saat berada di luar negeri. Dia melaluinya sambil menyakinkan diri untuk tidak menyesal.


Yi Ming memberitahu Li Man kalau dia punya satu penyesalan dalam hidupnya. Yaitu, membiarkan Li Man masuk dalam perusahaan mereka dulu. Jika Li Man tidak ada, mungkin Yi Cheng sekarang sudah berada di puncak industri game. Dan dia juga tidak ingin menanyakan alasan Li Man berbuat hal seperti itu 3 tahun lalu karena yang sudah berlalu tidak bisa diubah lagi. Yang penting adalah sekarang dan kelak. Bukankah dia juga sudah lihat kalau Yi Cheng sudah memiliki awal yang baru. Jadi, dia harap Li Man juga bisa.


Li Man kelihatan sekali sangat congkak. Dia menyadari kalau maksud ucapan Yi Ming adalah menyuruhnya menyerah. Dia tidak mau disalahkan dan menegaskan kalau dia tidak ada niat merusak rumah tangga orang lain. Dia juga baru tahu tadi dan butuh waktu menerimanya (spoiler, dia berusaha merusak pernikahan Yi Cheng dan Lu Li!)


Yi Cheng dan Lu Li baru sampai di rumah. Yi Cheng hendak membahas masalah tadi dan menjelaskan kenapa dia nggak memberitahu Lu Li terlebih dahulu mengenai pertemuan mereka tadi dengan Li Man. Tapi belum dia menjelaskan, Lu Li sudah langsung nanya, kalau Li Man adalah programmer wanita yang sudah mencampakkannya kan? Lu Li kelihatan sangat marah dan kecewa karena dimanfaatkan. Yi Cheng yang nggak menyadari hal itu, malah balik marah dan menyuruh Lu Li untuk tidak asal mengansumsikan masalahnya hanya karena mereka sudah mendaftarkan pernikahan.

Lu Li yang biasanya selalu tenang dan mengalah, kali ini tidak mau. Dia bukan asal berasumsi melainkan menyimpulkan berdasarkan logika. Dia tidak bodoh. Jelas-jelas Yi Cheng bersikap perhatian padanya di hadapan Li Man. Bukankah itu sama saja menggunakannya sebagai tameng? Yi Cheng benar-benar tidak tahu kapan harus meminta maaf, malah berusaha memojokkan Lu Li balik dengan membahas hubungannya dengan Yi Ming. Padahal Lu Li sudah bilang kalau Yi Ming hanya menghiburnya, tapi Yi Cheng nggak mau menerima alasan itu.



Lu Li lelah menghadapinya dan memilih ke kamar. Yi Cheng awalnya hendak menahannya, tapi dia menyadari kalau leher dan tangan Lu Li dipenuhi ruam merah. Dia sadar kalau Lu Li masih alergi seafood dan berbohong dihadapan Li Man tadi. Begitu Lu Li masuk ke kamarnya, dia langsung pergi ke apotek terdekat untuk membeli obat alergi.



Kepada apoteker yang bertugas, Yi Cheng memberitahu kalau dia hendak membeli obat alergi untuk istrinya. Istrinya tadi makan sesuap udang dan muncul ruam merah di lehernya. Apoteker pun memberikannya sebuah obat salep dan menasehati agar kulit tidak digaruk untuk menghindari peradangan. Sementara juga harus menghindari makanan pedas. Jika kondisi memburuk. Lebih baik memeriksakan diri ke rumah sakit.





Saat dia tiba, Lu Li sudah tertidur. Yi Cheng masuk ke kamarnya secara diam-diam dan memasangkan obat salep tersebut kepada Lu Li. Dia juga menahan tangan Lu Li yang hendak menggaruk leher. Dia jelas-jelas menyukai Lu Li, namun, dia tetap saja tidak sadar akan hal itu. Sebelum keluar dari kamar Lu Li, dia membenarkan selimut Lu Li.






Tidak hanya itu, keesokan harinya, dia bangun lebih awal untuk membelikan sarapan bagi Lu Li. Dia sengaja membeli sarapan yang ringan dan tidak pedas sesuai saran apoteker kemarin. Sayangnya, Lu Li masih marah dan mengabaikan semua bentuk perhatiannya. Lu Li juga tidak mau ikut dengannya ke kantor dan memilih pergi dengan kendaraan umum. Yi Cheng yang sudah berusaha menunjukkan perhatian, jadi kesal karena diabaikan.



Saking kesalnya, dia sampai mencari informasi diinternet mengenai koala yang marah. Soalnya,menurutnya, Lu Li mirip seperti koala. Diinternet tertulis kalau koala biasanya sangat jinak dan peluang marahnya kecil. Yi Cheng membenarkan hal itu dan bergumam kalau koala marah, koala bisa sangat agresif.



Hm, Yi Cheng jadi galau. Dia hendak mengirimkan pesan ‘maaf’ pada Lu Li. Namun, harga dirinya melarangnya melakukan itu. Dia merasa kalau dia adalah bos dan Lu Li adalah karyawan. Kalau dia meminta maaf, gimana Lu Li akan memandangnya kelak! Tidak bisa.


Ujung-ujungnya, dia malah mengirim pesan menyuruh Lu Li untuk ke kantornya. Lu Li yang lagi merajuk, hanya membaca pesan itu.


Ada suatu perasaan yang namanya khawatir berlebihan. Sering kali orang-orang minder karena menyukai seseorang. Namun, mereka lupa, jika terus berlari mengejar cahaya, cahaya tak akan pernah bisa melihat kau yang dibelakangnya.