Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Sinopsis C- Movie : Caijin (2012) Part 3

 

Pulang dari sekolah, Caijin merasa agak ragu untuk meminta uang kepada orang tuanya. Lalu tiba- tiba dia tidak sengaja, mendengar pembicaraan kedua orang tuanya yang berada di dalam kamar.

Uang yang tersisa dirumah ada sekitar 2000 yuan. Xiaocheng memperkirakan kalau uang ini mungkin bisa cukup untuk setengah tahun. Tapi Chuntao tidak sependapat, karena uang ini belum termaksud uang obat Xiaocheng dan uang sekolah Caijin.

Ini salahku. Aku bahkan tidak bisa membuat tahu sekarang, kata Xiaocheng, menyalahkan dirinya sendiri.

Bagaimana bisa menyalahkanmu? Aku yang telah menjadi beban untukmu. Dan Vendor Pan akhir- akhir ini tidak datang, balas Chuntao sambil menghela nafas.


Chuntao kemudian mengambil gelang dari Ibunya. Dia berencana untuk menjual gelang tersebut. Dan Xiaocheng tidak setuju, karena ini satu- satunya peninggalan dari Ibu Chuntao.

Caijin yang berada diluar kamar dan mendengar itu, dia diam dan menundukkan kepalanya.


Malam hari. Chuntao berdiskusi dengan Xiaocheng. Dia ingin agar Caijin berhenti bersekolah saja, sebab keuangan mereka sangat tipis sekarang dan lagian Caijin adalah perempuan, jadi tidak ada gunanya belajar. Tapi Xiaocheng tidak setuju, karena menurutnya sekolah itu sangat penting.

Terserahlah. Anggap aku tidak mengatakan apa- apa barusan, kata Chuntao, mengikuti perkataan Xiaocheng.

Disaat mereka berdua berdiskusi, Caijin sebenarnya masih belum tidur. Jadi dia tidak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka berdua, dan dia merasa stres serta sedih untuk kedua orang tuanya.

Keesokan harinya. Xiaocheng memberikan uang sekolah kepada Caijin. Ambil ini, dan belajarlah dengan baik. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan tentang uang, jelasnya.

Mendengar itu, dengan ragu, Caijin menerima uang yang Xiaocheng berikan. Terima kasih, pa. Aku berangkat sekolah dulu, katanya, pamit. Lalu dia pergi.


Dalam perjalanan, Caijin teringat pembicaraan kedua orang tuanya. Menyadari kesulitan kedua orang tuanya, dia merasa stress dan khawatir. Jadi dia memutuskan untuk batal berangkat ke sekolah dan pergi ke gunung untuk menggali beberapa tumbuhan liar.

Dalam perjalanan, Caijin teringat pembicaraan kedua orang tuanya. Menyadari kesulitan kedua orang tuanya, dia merasa stress dan khawatir. Jadi dia memutuskan untuk batal berangkat ke sekolah dan pergi ke gunung untuk menggali beberapa tumbuhan liar.


Setelah agak sore, Caijin pulang dan menaruh akar tumbuhan persik lima jari serta pakan babi, didekat kandang babi yang berada diluar rumah. Lalu dia pulang ke rumah dengan membawa kayu bakar yang diambilnya.

Keesokan harinya. Pagi- pagi, Caijin memberikan makan babi. Lalu dia berangkat ke kota dengan membawa akar tumbuhan persik lima jari untuk dijual. Dan dia pergi ke kota dengan menumpang mobil yang lewat.

Disekolah. Guru Qiuxiang masuk dan kembali mengajar.


Dikota. Caijin berjualan. Dan saat penjual ayam disebelahnya ingin ke toilet serta meminta Caijin untuk membantunya, dengan baik hati, Caijin mengiyakan. Jadi saat ada pembeli yang datang untuk membeli ayam, Caijin membantu menjual ayam tersebut. Dan Caijin sangat pintar serta jujur, saat menghitung kalau uang yang diterimanya berlebih banyak, Caijin mengejar Bibi yang barusan membeli ayam dan mengembalikan uangnya.

Aduh, aku buru- buru, jadi salah. Terima kasih banyak ya, gadis kecil! kata Bibi pembeli ayam (Yang Yunmei), sangat berterima kasih.


Kemudian saat Paman penjual ayam kembali, Caijin memberikan uang hasil jualan ayam kepadanya. Dan sebagai tanda terima kasih, penjual ayam memberikan Caijin mie yang barusan dibelinya. Dan Caijin menerima itu dengan senang.

Ketika sudah agak siang, dagangan Caijin akhirnya laku semua.


Malam hari. Caijin diam- diam menghitung uang hasil jualannya, dan dia sangat senang sekali dengan hasil yang didapatkannya. Lalu diapun lanjut belajar.

Karena Caijin sudah seminggu tidak datang ke sekolah, maka Guru Qiuxiang pun bertanya kepada Lingli. Dan Lingli merasa ragu untuk bercerita tentang masalah Caijin, sebab dia sudah berjanji tidak akan bercerita kepada siapapun. Mengetahui alasan Lingli, Guru Qiuxiang mengerti dan tidak memaksa Lingli untuk bercerita, namun setelah pulang sekolah, dia ingin Lingli membawanya ke rumah Caijin. Dan Lingli pun mengiyakan.

Saat Guru Qiuxiang dan Lingli datang ke rumah, akhirnya Xiaocheng dan Chuntao menjadi tahu kalau selama beberapa hari ini Caijin tidak ada datang ke sekolah. Dan mereka berdua sangat terkejut, karena setahu mereka, setiap hari Caijin selalu berangkat ke sekolah.


Lalu tepat disaat itu, Caijin pulang sambil membawa kayu bakar. Dan saat Caijin melihat Guru Qiuxiang, dia merasa takut- takut menatap Guru Qiuxiang serta kedua orang tuanya. Sebab dia tahu, kalau kebohongannya sudah ketahuan.

Kemana kamu pergi? kata Chuntao, bertanya. Dan Caijin diam sambil menundukkan kepalanya.

Aku pikir kamu pergi ke sekolah setiap hari, tapi kamu malah bolos! kata Xiaocheng, merasa kecewa. Dan Caijin diam sambil tetap menundukkan kepalanya.


Kemudian dengan lembut, Guru Qiuxiang memanggil Caijin untuk berdekat. Lalu dia bertanya padanya, Beritahu Ibu, apa yang kamu lakukan?

Akhirnya dengan jujur, Caijin menjelaskan bahwa dia memang tidak pergi ke sekolah, itu karena dia belum membayar uang sekolah. Dan Xiaocheng memang ada memberikannya uang, tapi dia tidak bisa menggunakan uang itu, karena uang itu bisa digunakan untuk biaya hidup mereka sehari- hari dan obat Ayahnya.

Mengetahui itu, Chuntao merasa stress dan bersalah. Kami sudah bilang kamu tidak perlu khawatir tentang uang.

Kalian semua sakit dan tidak bisa bekerja, jika aku tidak peduli, siapa lagi yang akan peduli?balas Caijin.

Kemudian Caijin memberikan uang yang selama ini dikumpulkannya untuk membayar uang sekolah kepada Guru Qiuxiang. Dan melihat uang itu, Chuntao mempertanyakan Caijin, darimana asal uang itu. Dan Caijin pun menjawab bahwa uang ini adalah hasil dia menjual tumbuhan obat.

Cukup. Uang ini lebih dari cukup, kata Guru Qiuxiang sambil memeluk Caijin dengan lembut. Caijin, besok datang ke sekolah ya?

Iya, jawab Caijin sambil mengangguk.

Keesokan harinya, Caijin masuk ke sekolah. Didalam kelas, Guru Qiuxiang menyuruh Caijin untuk membaca essay yang telah Caijin tulis. Dan Caijin berdiri serta diam. Lalu Guru Qiuxiang pun meminta bantuan Lingli untuk membacakan essay tulisan Caijin. Dan Lingli pun berdiri.

Papa ku dan Mama ku, kata Lingli, membaca essay Caijin. Lalu dia berhenti.

Mengapa berhenti? tanya Guru Qiuxiang.

Bu Guru, tidak ada lanjutannya lagi, jawab Lingli. Dan murid- murid menertawai Caijin. Mengapa kalian tertawa? Kalian tidak tahu apapun, kata Lingli, memarahi semuanya. Dan Caijin memberikan kode supaya Lingli jangan mengatakan apapun. Tapi Guru Qiuxiang memberikan kode untuk Lingli agar lanjut berbicara saja.

Karena Guru Qiuxiang mendukung, maka Lingli pun mulai berbicara lagi. Dia memberitahu semuanya bahwa Caijin memang tidak ada menyelesaikan essay ini, tapi ini karena Caijin tidak memiliki waktu. Selain harus belajar, Caijin juga memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Intinya, mereka punya orang tua yang menjaga mereka. Tapi Caijin berbeda, Caijin yang harus menjaga kedua orang tuanya. Bahkan Caijin harus berlari pulang setiap istrihat untuk membuang air kencing didalam tempat kencing. Namun tanpa tahu apapun, mereka semua malah menertawai Caijin. Kepadahal diantara mereka semua, hanya Caijin yang menghasilkan uang sekolah sendiri.


Lingli benar, kata Guru Qiuxiang sambil memegang bahu Caijin. Ini adalah Caijin kita. Dia memang tidak menyelesaikan essay karangan nya, tapi dia menyelesaikannya dengan tindakan, jelasnya kepada semua murid didalam kelas.

Mendengar itu, satu persatu didalam kelas berdiri dan menawarkan diri untuk membanu Caijin. Mereka bisa mengumpulkan kayu bakar, memberi makan babi, dan mencuci baju juga. Bahkan ada yang tinggal didekat klinik, jadi mereka bisa membantu Caijin untuk mengambil obat disana.


Melihat kebaikan teman- temannya, Caijin merasa sangat tersentuh sekali dan tersenyum senang.

Kemudian dihari libur, Guru Qiuxiang dan beberapa murid datang ke rumah Caijin untuk membantu pekerjaan rumahnya. Bahkan Xiaohu juga datang membantu. Karena hal itu, semua pekerjaan rumah Caijin pun menjadi cepat selesai.

Tidak hanya sampai disitu. Guru Qiuxiang juga membantu Caijin, dengan cara menuliskan kisah Caijin untuk diberikan ke media. Dan suami Guru Qiuxiang sangat mendukung tindakan baik Guru Qiuxiang.


Beberapa hari kemudian, Dokter datang ke rumah untuk memeriksa kondisi Xiaocheng. Dan hasilnya, ada kemungkinan besar Xiaocheng mengalami Paraplegia (kelumpuhan yang memengaruhi semua atau sebagaian batang tubuh, tungkai, dan organ panggul).

Saat Chuntai dan Caijin mengetahui hal itu, mereka berdua sama- sama merasa sedih sekali dan tidak berdaya.



Lalu mulai dari saat itu, setiap malam, Chuntao dan Caijin membantu Xiaocheng berolahraga. Dengan cara, menaruh kain ditubuhnya, dan menarik naik turun secara terus menerus.