Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Google Incar Kontrak Militer dari Amerika, Mau Bikin Apa?

Google Incar Kontrak Militer dari Amerika, Mau Bikin Apa?

Google disebut tengah mengincar kontrak dari Kementerian Pertahanan AS. Bukan untuk senjata, tapi penggunaan layanan cloudnya di militer AS.

Keseriusan Google untuk memenangkan kontrak itu terlihat dari sejumlah engineer di divisi Cloud mereka dialihkan untuk menggarap proposal yang akan diajukan ke program bernama Joint Warfighting Cloud Capability milik Kementerian Pertahanan AS.

Dalam deskripsinya, Dephan AS itu menyebut program ini bertujuan mencapai dominasi peperangan baik di ranah tradisional maupun non tradisional, demikian dikutip Chuwee.xyz dari The Verge, Jumat (5/11/2021).

Kontrak yang diincar Google ini bakal terbuka untuk beberapa perusahaan yang masing-masing akan mengirimkan proposalnya sendiri. Nilai kontraknya diestimasi Dephan AS bakal mencapai miliaran dolar.

Pemenang kontraknya sendiri nantinya akan mendapat akses ke data peperangan yang krusial dengan bermacam level klasifikasi -- termasuk rahasia dan sangat rahasia --.

Lebih lanjut, program tersebut membutuhkan perusahaan yang bisa menyediakan layanan analitik data kelas atas yang data driven, bisa menghasilkan keputusan yang cepat di level taktis, juga aman.

Sebelumnya Google juga pernah hampir terlibat dengan proyek militer AS. Namun langkah tersebut diprotes oleh para karyawannya, dan Google kemudian menyatakan kalau tak akan memakai kecerdasan buatan (AI)-nya untuk keperluan militer.

Teknologi AI yang dimaksud itu dibuat pada 2018 dan bisa menganalisa video yang direkam menggunakan drone militer. Ini merupakan bagian dari Project Maven yang digarap oleh Dephan AS.

Namun kemudian ribuan pegawai Google menandatangani surat terbuka yang ditujukan untuk CEO Google Sundar Pichai dan meminta Google tidak terlibat dengan peperangan karena akan merusak reputasi Google.

Google akhirnya membatalkan keterlibatannya di Project Maven dan berjanji tak akan menggunakan AI untuk senjata ataupun proyek mata-mata yang bertentangan dengan hak asasi manusia. Namun Google menyebut akan tetap bekerja sama dengan militer di banyak aspek lain.